KETIKA BUMI MENGINGATKAN KITA
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Beberapa hari terakhir, berbagai peristiwa alam terjadi di negeri kita.
Gempa mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah. Sebagian daerah menghadapi kekeringan dan panjangnya hari tanpa hujan. Gunung Anak Krakatau juga kembali menunjukkan aktivitas erupsinya.
Peristiwa-peristiwa ini seharusnya tidak sekedar menjadi berita yang kita baca lalu kita lupakan. Bagi seorang mukmin, semua itu mengingatkan kita bahwa:
Teknologi manusia boleh maju. Bangunan boleh semakin kokoh. Prediksi cuaca semakin canggih. Tetapi ketika Allah menetapkan sesuatu terjadi, tidak ada seorang pun yang mampu keluar dari ketetapan-Nya.
Maka bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi berbagai musibah yang terjadi?
Pertama: Yakinlah, Tidak Ada Musibah yang Terjadi di Luar Takdir Allah
Allah Ta’ala berfirman:
Gempa bukan bergerak sendiri. Gunung tidak meletus di luar kekuasaan Allah. Hujan turun dan berhenti dengan takdir Allah. Angin bertiup dengan izin Allah.
Semua yang terjadi di alam semesta ini berada di bawah ilmu, kehendak, dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tetapi beriman kepada takdir tidak berarti kita meninggalkan ikhtiar.
Kita tetap mengikuti peringatan ahli yang terpercaya. Kita tetap melakukan mitigasi. Kita tetap mengungsi ketika diperintahkan. Kita tetap menjaga lingkungan. Kita tetap berusaha memadamkan kebakaran dan membantu korban.
Seorang mukmin mengambil sebab yang dibenarkan, kemudian hatinya bersandar kepada Allah. Ketika musibah datang, ia mengucapkan:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua: Musibah Seharusnya Membuat Kita Bertaubat, Bukan Sekadar Berkomentar
Allah Ta’ala berfirman:
Ayat ini seharusnya membuat kita melihat ke dalam diri sendiri.
Ketika bencana terjadi, jangan sampai kesibukan kita hanya untuk merekam, mengunggah, membagikan berita, berdebat mengenai penyebabnya, tetapi hati kita tidak berubah.
Para salaf ketika melihat tanda-tanda kebesaran Allah, mereka takut dan kembali kepada Allah.
Diriwayatkan bahwa ketika terjadi gempa pada masa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengingatkan manusia agar kembali dan bertaubat kepada Rabb mereka. Pembahasan ini juga dinukil dalam penjelasan para ulama tentang hikmah gempa dan musibah.
Maka ketika melihat berbagai bencana, tanyakanlah kepada diri kita:
Bagaimana shalat saya?
Bagaimana hubungan saya dengan Allah?
Apakah masih ada riba yang saya pertahankan?
Apakah masih ada hak manusia yang saya zalimi?
Apakah lisan saya penuh ghibah dan dusta?
Apakah keluarga saya sudah saya jaga dari maksiat?
Gunung memuntahkan isinya, tetapi dosa kita tidak membuat kita takut.
Air menghilang dari sebagian tempat, tetapi air mata taubat tidak pernah keluar dari mata kita.
Musibah terbesar bukanlah ketika bumi berguncang.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ketiga: Jangan Gegabah Mengatakan Setiap Bencana Pasti Azab
Ini juga harus kita pahami dengan benar.
Ketika musibah menimpa seseorang atau suatu daerah, kita tidak boleh dengan mudah menunjuk mereka lalu mengatakan:
Tidak demikian sikap seorang Muslim. Musibah dapat memiliki banyak hikmah.
Bagi sebagian orang, ia bisa menjadi peringatan. Bagi sebagian yang lain, menjadi penghapus dosa. Bagi orang beriman yang bersabar, musibah bahkan dapat mengangkat derajatnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Karena itu kita tidak mengetahui secara pasti apakah suatu musibah tertentu adalah ujian untuk meninggikan derajat, penghapus dosa, peringatan, atau hukuman. Yang terpenting adalah bagaimana seorang hamba merespons musibah tersebut.
Maka bagi saudara kita yang tertimpa musibah: Bersabarlah.
Jangan berburuk sangka kepada Allah. Jangan mengatakan sesuatu yang Allah murkai.
Yakinlah bahwa kesabaran tidak pernah sia-sia.
Allah berfirman:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keempat: Musibah Saudara Kita Adalah Panggilan untuk Menolong
Jika rumah kita aman, air masih mengalir, keluarga kita sehat, dan kita dapat duduk nyaman di masjid hari ini, maka jangan hanya mengatakan:
Tetapi katakan:
Rasulullah ﷺ bersabda:
Ketika satu bagian tubuh sakit, bagian tubuh yang lain ikut merasakan. Maka bantulah korban bencana sesuai kemampuan. Dengan harta. Dengan tenaga. Dengan makanan. Dengan air bersih. Dengan tempat tinggal. Dengan doa.
Dan ketika berdonasi, pilihlah lembaga dan pihak yang amanah agar bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Jangan pula memanfaatkan penderitaan manusia hanya untuk membuat konten. Jangan menyebarkan foto jenazah dan penderitaan korban tanpa kebutuhan. Jaga kehormatan saudara kita bahkan ketika mereka sedang berada dalam keadaan lemah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ketika melihat berbagai musibah terjadi, maka ada empat pelajaran yang harus kita bawa pulang:
Jangan tunggu musibah datang ke rumah kita baru kita ingat Allah. Jangan tunggu air sulit didapat baru kita sadar nikmat air. Jangan tunggu rumah berguncang baru kita sadar nikmat keamanan. Jangan tunggu kehilangan keluarga baru kita menghargai kesempatan bersama mereka.
Semoga Allah menjaga negeri kita. Semoga Allah mengangkat musibah dari kaum Muslimin. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada mereka yang tertimpa bencana. Dan semoga Allah menjadikan segala peristiwa yang kita lihat sebagai sebab hati kita semakin dekat kepada-Nya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Bencana mengingatkan kita tentang satu kenyataan:
Rumah yang kokoh dapat rusak. Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun dapat hilang dalam hitungan menit. Orang yang pagi hari sehat, sore hari bisa menghadap Allah.
Maka jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar hidup kita.
Persiapkanlah pertemuan dengan Allah. Perbanyak taubat dan istighfar. Perbaiki shalat. Tunaikan hak manusia. Tinggalkan kemaksiatan. Dan manfaatkan kesehatan serta keamanan sebelum keduanya berubah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa: